Rabu, 16 Januari 2013

Sampah di Sekolah



Kita sering membaca slogan Bersih itu Sehat dan Indah”. Slogan itu banyak ditempelkan atau dipajangkan di sekolah-sekolah atau di berbagai tempat. Slogan itu sebenarnya adalah sebuah seruan kepada semua orang untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Slogan tersebut sangatlah bijak. Namun sering menjadi slogan yang seperti tidak bermakna. Slogan itu hanya menjadi hiasan atau bahkan ibarat grafitti saja. Karena pada kenyataannya, sampah tetap saja berserakan dan dibuang secara sembarangan. Begitu juga halnya di sekolah.

Sekolah sebagai salah satu pusat pendidikan bagi anak-anak bangsa ini, hingga kini belum bisa melaksanakan anjuran untuk bisa hidup bersih dan sehat, walaupun diketahui itu indah. Kenyataannya, banyak sekolah yang masih belum bersih dan indah. Bahkan sangat gersang,karena tidak ditanami dengan pohon-pohon yang menyejukkan. Banyak sekolah yang masih dikotori dengan sampah. Ada kamar mandi dan WC tersedia, namun kondisinya sangat kotor atau jorok. Sehingga sangat mengganggu lingkungan sekitar sekolah. 

Seharusnya, sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan, sekolah adalah tempat anak bisa belajar dan menerapkan tentang tata cara mengelola sampah yang benar dan bermanfaat. Namun banyak sekolah yang hingga kini tidak mengelola sampah dengan benar. Anak-anak dalam keseharian masih membuang sampah di selokan dan di sungai-sungai. Walau di sekolah sering diajarkan bahwa membuang sampah di sungai dan selokan bisa menyebabkan banjir dan menjadi sumber penyakit yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Sekolah sebagai tempat anak-anak belajar dan menuntut ilmu, bisa memberikan pengetahuan tentang cara mengelola sampah. Perilaku anak-anak bisa dirubah dengan membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Anak juga selayaknya bisa diberikan ketrampilan mengelola sampah di sekolah. Ada beberapa cara yang bisa dipraktekkan di sekolah. Salah satunya adalah dengan memisahkan sampah-sampah tersebut menjadi tiga bagian. Sekolah bisa menyediakan tiga tong sampah. Misalnya, tong yang berwarna hijau adalah untuk sampah yang berasal dari buah-buahan, sayur-sayuran atau daun-daunan yang cepat membusuk atau yang sering disebut sebagai sampah dapur.

Sampah ini sering kita kenal dengan sebutan sampah organik. Kita juga dapat menyediakan lubang untuk mengubur sampah-sampah tersebut. Sesudah penuh lubang tersebut kita tutup kembali dengan tanah. Sampah yang telah dikubur akan membusuk dan baik sekali untuk menjadi pupuk, yang sering disebut dengan pupuk kompos.
 
Untuk tong yang berwarna merah misalnya untuk sampah pecahan kaca, botol plastik, kaleng atau sampah yang tidak dapat membusuk atau tidak dapat dibakar. Sampah ini dapat kita pilih apabila yang masih utuh dapat kita jual dan yang tidak dapat dijual juga dapat kita masukkan dalam lubang yang telah digali dan kemudian kita kubur supaya tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk demam berdarah.

Sementara untuk tong yang berwarna kuning adalah untuk sampah yang terdiri dari kertas atau sampah yang mudah terbakar. Sampah jenis ini sebenarnya tidak usah setiap sore hari kita bakar. Sampah ini sebenarnya dapat didaur ulang. 

Semua hal ini bisa dipraktekkan di sekolah oleh para guru atau pendidik. Hal ini bisa dilakukan apabila semua kita sadar, mau dan kreatif dalam mengelola sampah di sekolah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar